Lebih tepatnya, di bilangin sama Allah lewat guru gue.
Sebenernya ini adalah hal negatif sih..
Gue sebenernya gamau cerita-cerita. Tapi berhubung ini kayaknya penting buat di share dan udah pasti ga cuma gue doang yang punya hal negatif ini, jadi gue rela dijadiin contoh meskipun ini bisa di bilang bukan suatu hal yang bagus juga hehe



Selama ini gue ngira, ini terjadi karena gue orangnya moody. Moodnya gampang berubah. Tapi mungkin Allah udah agak geregetan sama gue karena makin lama, makin parah aja gue ini nunda-nundanya. Kemaren lewat guru gue, gue akhirnya tahu itu bukan karena gue moody. Tapi itu adalah salah satu penyakit psikologis, saudara-saudara. Hayo, yang suka nunda-nunda melakukan sesuatu.. Hati-hati, kalian terjangkit penyakit seperti saya haha.



Kesimpulannya : GUE MALES NGERJAINNYA -,-"









"Sebelum di mulai, guru gue jelasin dikit. Jadi katanya, "Di Jerman itu ada istilah orang suka menunda-nunda. Si orang yang suka nunda-nunda tersebut di sebutnya Aufschieber dan kata kerja untuk menunda-nunda itu namanya aufschieben. Contohnya, kalian harusnya buat tugas essay. Tapi kalian tunda-tunda sampe nanti-nanti. Tugasnya baru di kerjain di akhir waktu batas akhir ngumpulin..."
Gue langsung cengo, "Eeeh, ini nyindir gue apaa??"



Jadi pas guru gue mulai bacain soal, gue yang harusnya dengerin dan nyatet hal-hal yang penting, malah jadi ga konsen. Isi teksnya nyindir gue banget, nih. Untung, di kasih kesempatan denger dua kali. Pokoknya, pas kesempatan pertama gue ga konsen, blas.



Jadi cerita awal, ada mbak-mbak namanya Anne. Dia beresin rumah. Nyuci piring, bersiin kamar mandi, beres-beres dapur, ngepel, pokoknya beres-beres sampe rumahnya kinclong clong. Lantainya pun bersih, bening, sebening kaca. Selesai beres-beres, dia nonton video favoritnya. Jadi, kesimpulannya Anne itu rajin, kan? Sayangnya, Anne itu ga rajin. Dia itu sebenernya lagi nunda sesuatu. Harusnya sih ya, dia itu duduk manis di depan laptop dan ngerjain Tesisnya. Padahal dia udah 20 Semester. Tapi tetep tuh, tesisnya ga kelar-kelar.
Pembahasan yang penting ada di kalimat ini : Anne leidet unter einer exremen Form von Aufschiebeverhalten - Prokrasination, wie es in der Psychologie heißt -, einem Phänomen, das die meisten Menschen mehr oder weniger ausgeprägt kennen. Denn Prokrasination bedeutet, die Ausführung oder Beendigung unangenehmer Aufgaben auf später zu verschieben.
Artinya kira-kira : Anne ini mengidap penyakit suka menunda-nunda parah, yang di dalam istilah Psikologi di sebut Prokrasination. Prokrasination ini artinya kegiatan menunda pekerjaan atau tugas yang tidak menyenangkan, yang seharusnya dilakukan pada saat itu dikemudian hari.



Arti kasar menurut kata-kata gue : Kegiatan menunda-nunda ini sebenarnya adalah sebuah pola prilaku. Orang-orang ini biasanya berusaha melakukan hal-hal yang menyenangkan dulu dengan mengerjakan hal-hal yang menurutnya menyenangkan (gampang, ga bikin pusing). Bisa dengan cara mengerjakan tugas yang gampang duluan atau malah ga ngerjain tugas. Kayak contoh di atas. Dia malah beres-beres rumah, nonton tv, dll. Dan tugas yang menurutnya ga menyenangkan ditunda dulu ngerjainnya sampe taun gajah. Gatau kapan di seleseinnya hehe.



Arti kasar menurut kata-kata gue : Di beberapa orang, Prokrastination ini sudah menjadi gangguan parah (disorder) : Orang-orang yang terkena gangguan ini, jadi terbiasa tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas yang harus di kerjakan sampai selesai. Walaupun sebenarnya, mereka sanggup ngerjain tugas itu. Dan perlu diinget juga, Prokrasination itu penyebab utamanya bukan karena males.



Man kann zwei unterschiedlichen Typen von Aufschiebern unterscheiden : der aktive und der passive Prokrastinator. Der aktive Aufschieber behauptet von sich, er könne erst im Augenblick kreativ sein, er brauche den Zeitdruck, um richtig arbeiten zu können. Wenn er die Arbeit in letzter Minute mal wieder geschafft hat, hat er ein gutes Gefühl. Tatsächlich schafft er die Arbeit auch in den meisten Fällen.
Der passive Aufschieber hat Angst davor, dass seine Arbeit schlecht, minderwertig werden könnte, und verschiebt sie deshalb. Das Aufschiebenn bewirkt aber keine besondere Kreativität in lezter Minute wie beim aktiven Aufschieber; der passive Aufschieber scheitert in der Regel mit seinem Vorhaben. Wenn er diese Erfahrung wiederholt gemacht hat, sind Depressionen, Ängste, und Selbstzweifel die Folge, die die Prokrastination wiederum verschärfen.
Arti kasar menurut kata-kata gue : Jadi, ada dua tipe orang yang suka menunda-nunda. Tipe yang aktif sama yang pasif. Kalau tipe aktif itu dia baru bisa bener-bener serius ngerjain kalau ada tekanan waktu. Misal, tugas dari minggu lalu, harus di kumpulin besok. Klo dia berhasil ngerjain tugasnya di menit-menit terakhir, kayaknya banggaaa gituu. Padahal sebenernya, dia bisa selesai dari minggu lalu. Cuma di tunda-tunda aja karena ga seneng ngerjain tugasnya hehe






Terus ada hasil penelitian dari Universitas Münster bahwa :
1. Laki-laki itu lebih sering nunda-nunda di banding perempuan. HAYOLOH KETAUAANN!! Ahahaha
2. Mahasiswa yang kuliah jurusannya kayak filosofi, psikologi, sosiologi, ekonomi, dll lebih suka nunda-nunda ketimbang mahasiswa yang kuliahnya jurusan kedokteran. Soalnya klo anak kedokteran katanya karena banyak tugas dan ujian-ujian yang berdatangan silih berganti hehe
3. Mahasiswa semester akhir atau mahasiswa yang kuliahnya udah di tengah-tengah biasanya lebih seneng nunda-nunda daripada mahasiswa baru. HAYOOH, yang SKRIPSInya BELOM KELAR-KELAR, yaaa #ups



Jadi di teks yang gue denger itu, contohnya mahasiswa yang tipe pasif. Klo si mahasiswa ini ngerasa takut atau ga yakin bahwa tugas yang dia kerjain bener *apalagi klo dosennya galak*, sama dia tugasnya di tunda terus selama mungkin. Sampe akhir batas pengumpulan juga ga selesai. Sebenernya dia ngerasa ga nyaman atau gelisah tugasnya ga selesai. Tapi menurut dia, mendingan tugasnya ga dikumpulin daripada salah ngerjain terus di permalukan dosen di depan umum. Nahloh, siapa yang punya pengalaman persis kayak gitu hayoohh?? Pasti ada, gue yakin haha.









1. Pünktlich anfangen. Tepat waktu dalam mengerjakan hal yang harus dikerjakan. Jadi, harus dibuat waktu pastinya, kapan harus mulai ngerjainnya. Dan bener-bener harus jam segitu mulai. Jangan di tunda lagi. Susah memang. Gue udah nyoba. Tapi bener-bener harus diniatin banget, supaya ga jadi kebiasaan jelek. Rugi sendiri. Ntar keburu di panggil Allah, baru tau rasa -,-"
2. Realistisch planen. Buat perencanaannya yang realistis, jangan lebay. Klo target yang di buat ga masuk akal alias kalian ga sanggup buat ngerjainnya, ya jangan di buat. Udah tau ga sanggup, kok maksa. Nyiksa diri aja. Udah suka nunda-nunda, buat rencana ga realistis, makin berat deh hidup looo wkwk.
3. Teilschritte festlegen. Ngerjainnya di cicil, bro. Selangkah demi selangkah. Jangan ditumpuk. Makin lama tugas makin banyak, klo ga dimulai dikit-dikit, makin lama bebannya makin banyak, makin males pulalah ngerjainnya. Makin stresslah, kalian. Ampe mimpipun di kejar-kejar tugas. Kesian haha.
Gue tau, strategi kayak diatas pasti hampir semua orang yang suka nunda udah pernah denger. Gue juga sama. Tapi klo mau berubah, ya strategi klasik di atas harus di mulai dari sekarang. Waktu itu ga bisa di beli loh. Waktu juga ga bisa di sogok supaya mau mundur. Jadi yang harus di lakukan apa, dong? Yaaa, You just have to keep PUSHING yourself. Iya ga? Bilang dalem hati, "Gue bisa, gue pasti bisa ngerjain tugas yang ga enak ini. BISA BISA BISA dan KERJAKAN!" Ga cukup cuma bilang, bisa bisa doang. Harus DI-KER-JA-KAN. Klo Bahasa Jermannya, "Mach doch einfach!" "Kerjain dong sana!"






Naaahh, klo gue aja bisaa. Kenapa kalian, nggak? Yuk, DIMULAI DARI SEKARAANGG!! SEMANGAT SEMUAAA!!! :D




{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar