Dua puluh dua tahun yang lalu, ketika gue baru lahir...
ada seorang pria yang sibuk sekali menanam.
Pria itu menanam suatu bibit yang ia harapkan tumbuh menjadi sesuatu yang indah.
Tak peduli panasnya sinar matahari, dinginnya cuaca di luar, basahnya air hujan yang mengguyur tubuhnya, ia sibuk menanam.
Satu bibit pilihannya, ia kasih ke gue ketika gue baru lahir dan pria itu mengajarkan gue gimana cara menanamnya masih sampai sekarang, di umur gue yang sudah dua puluh dua tahun...
Dua tahun kemudian setelah gue lahir, sang pria tersebut juga memberikan bibit pilihannya ke ade gue Asa yang baru lahir. Sama, ia mengajarkan cara menanam bibit itu ke ade gue masih sampai sekarang, di umurnya yang sekarang dua puluh tahun.
Lalu melakukan hal yang sama. Memberikan bibit-bibit pilihannya ke ade gue yang lain, ke ade gue yang lain..
Mengajarkan dengan sabar cara menanamnya...
Menasihati dengan penuh kasih sayang ketika kami hampir gagal membuat bibit-bibit itu tumbuh indah..
Pria tersebut adalah ayah kami, Jamil Azzaini.
Bibit-bibit yang ia berikan kepada kami anak-anaknya adalah bibit-bibit karakter dan kepribadian yang di tanam di dasar hati kami yang paling dalam selama bertahun-tahun.
Ayah kami sibuk menanam bibit-bibit tersebut di hati kami, anak-anaknya.
Menunjukkan dan mengajarkan kepada gue dan ade gue Hana, agar bibit tersebut menjadi bunga yang unik dan memiliki mahkota bunga yang indah. Bibit bunga yang mengajarkan kami berdua agar kami menjadi wanita yang tangguh, yang suatu saat dapat melahirkan keturunan yang hebat.
Memberikan pupuk kandang yang terbaik dan air dingin yang di dapat dari mata air yang terjenih agar bibit-bibit kepemimpinan tumbuh di dasar hati ketiga adik laki-laki gue.
Menumbuhkan akar-akar kuat di hati kami, bahwa segala sesuatu yang kami lakukan harus dasar karena Allah bukan karena yang lain.
Bagi gue, semua ayah bertugas menanam bibit untuk anak-anaknya.
Masalah bibit tersebut menjadi bunga atau pohon apa, itu tergantung bagaimana sang ayah memberikan bibit macam apa kepada anak-anaknya. Ga cukup cuma memberikan bibit, sang ayah juga harus mengajarkan dan mencontohkan anak-anaknya bagaimana agar bibit tersebut tumbuh seharusnya.
Our Dad, Our Hero...
Ayah kami, Jagoan kami
Petani bibit handal, yang menanam bibit-bibit luar biasa di hati kami, anak-anaknya.
Kemarin, Jagoan kami ini ulang tahun yang ke-46.
Biarpun bertambah usia, ayah kami ini makin oke, senyum lebar khasnya semakin menawan, kata-katanya semakin menyejukan, candaannya selalu menyenangkan :)
Di ulang tahun bapak yang ke-46,
Ade gue Izzan, buat video untuk bapak..
Some people don't believes in hero, but they haven't meet our dad...
He's the real hero, everyone.. :)
Setidaknya untuk kami, anak-anaknya..
"HAPPY BIRTHDAY, BAPAAAKK..
We Love Youuu!!"




{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar